Lihat juga
Euro, pound, dan aset berisiko lainnya terus melemah terhadap dolar AS karena situasi di Timur Tengah belum membaik.
Data yang kuat mengenai aktivitas manufaktur dan jasa di AS untuk bulan April juga mendukung penguatan dolar AS. Indeks PMI yang diterbitkan oleh S&P Global menunjukkan pertumbuhan yang kuat, melampaui ekspektasi para ekonom dan mengindikasikan ketahanan berkelanjutan perekonomian AS meskipun terjadi gejolak di Timur Tengah.
Sektor manufaktur, khususnya, menunjukkan hasil yang menjanjikan, dengan tercapainya level tertinggi indeks PMI dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha meningkatkan volume produksi, dan pesanan baru terus mengalir. Sektor jasa juga kembali naik di atas level 50 poin. Sinyal ekonomi positif ini telah memperkuat posisi dolar AS di pasar valuta asing global.
Kalender ekonomi hari ini cukup padat, dengan perhatian khusus pada paruh pertama hari terhadap data Jerman, yang berpotensi sangat memengaruhi sentimen pasar Eropa. Agenda utamanya adalah publikasi laporan terbaru Indeks IFO Business Climate. Indikator komposit ini, yang mencakup penilaian mengenai situasi saat ini dan ekspektasi ekonomi, merupakan salah satu barometer utama bagi ekonomi terbesar di zona euro. Hasil survei ini akan memberikan informasi berharga mengenai penilaian para pelaku bisnis terhadap kondisi terkini bagi kegiatan mereka di tengah situasi geopolitik yang menantang.
Terkait pound, para trader juga akan mencermati Inggris. Pada paruh pertama hari, fokus akan tertuju pada rilis data penjualan ritel. Sayangnya, proyeksi ekonom tidak memberikan banyak alasan untuk optimisme. Diperkirakan akan keluar angka lemah, yang dapat mengindikasikan perlambatan belanja konsumen. Di tengah meningkatnya inflasi dan ketidakpastian terkait prospek ekonomi ke depan, masyarakat Inggris kemungkinan akan mengurangi pengeluaran dan memprioritaskan kebutuhan pokok. Data penjualan ritel yang lemah hampir pasti akan memberi tekanan negatif pada pound Inggris.
Jika data sesuai dengan ekspektasi para ekonom, sebaiknya bertindak berdasarkan strategi Mean Reversion. Jika data menunjukkan hasil yang jauh lebih tinggi atau jauh lebih rendah daripada ekspektasi para ekonom, strategi Momentum mungkin menjadi pendekatan yang paling tepat.