empty
 
 
04.03.2026 12:24 PM
XAU/USD: mengapa harga emas justru turun di tengah perang di Timur Tengah, bukannya naik

This image is no longer relevant

Situasi terkini di pasar emas menantang logika klasik: di tengah eskalasi geopolitik yang tajam antara AS dan Israel di satu sisi serta Iran di sisi lain, blokade efektif Selat Hormuz dan ancaman krisis energi global, harga emas bukan naik, melainkan mengalami koreksi yang dalam. Sekilas, hal ini tampak paradoks. Namun, jika melihat faktor fundamental, perilaku logam mulia ini mudah dijelaskan. Emas tengah dihantam oleh "badai sempurna", di mana peran utama sebagai aset lindung nilai sementara diambil alih oleh dolar AS, dan risiko inflasi secara paradoks justru berbalik arah merugikan emas.

This image is no longer relevant

Pada Rabu, 4 Maret, XAU/USD bergerak konsolidasi sedikit di atas $5.150,00, menghadapi resistance di bawah level penting jangka pendek $5.180,00 (EMA 200-periode pada chart 1-jam) dan mencatat kenaikan intraday yang moderat sekitar 1,50%. Hal ini terjadi di tengah kekhawatiran investor yang berlanjut mengenai potensi berlarut-larutnya konflik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi militer di Iran bisa berlangsung empat hingga lima minggu dan serangan akan diteruskan selama diperlukan.

Secara normal, faktor geopolitik akan mendorong harga emas naik, namun harga justru turun dari level tertinggi bulanan di atas $5.400,00. Untuk memahami alasannya, mari kita lihat empat faktor utama berikut.

4 alasan utama penurunan harga emas

  1. Dolar AS mengambil alih peran sebagai "safe haven" utama. Dalam kondisi ketidakpastian ekstrem dan kepanikan, investor mencari aset yang paling andal dan paling likuid. Di awal pekan ini, aset tersebut adalah dolar AS. Kekuatan dolar. Indeks dolar AS (USDX) melonjak pada Selasa, 3 Maret, ke level tertinggi tiga bulan di dekat 99,65 seiring arus modal global mengalir ke mata uang AS.
  • Korelasi negatif. Harga emas dikutip dalam dolar. Ketika dolar menguat tajam, membeli emas menjadi jauh lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, yang secara alami menekan permintaan.

2. Guncangan inflasi dari minyak justru berbalik melawan emas. Blokade Selat Hormuz — jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global — telah memicu lonjakan harga energi ke level tertinggi sejak Juni 2025. Iran memperingatkan bahwa mereka tidak akan mengizinkan minyak keluar dari kawasan tersebut, menambah kekhawatiran akan krisis energi baru.

  • Risiko stagflasi. Kenaikan harga minyak mendorong inflasi lebih tinggi sekaligus mengancam pertumbuhan ekonomi, menempatkan The Fed dalam posisi sulit.
  • Kepanikan pasar. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan jatuhnya pasar saham menandakan tekanan yang sangat dalam. Dalam situasi panik seperti ini, investor cenderung memilih memegang kas daripada membeli logam mulia atau saham.
  • 3. Pergeseran hawkish dalam ekspektasi suku bunga The Fed. Ini adalah faktor kunci. Emas sangat sensitif terhadap suku bunga karena tidak memberikan imbal hasil.
  • Akhir dari harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Kenaikan harga minyak telah meningkatkan ekspektasi inflasi. Pasar kini menyadari bahwa The Fed tidak dapat memangkas suku bunga dengan cepat tanpa memicu inflasi lebih lanjut. Krisis energi baru dapat menunda atau mengurangi skala rencana pelonggaran kebijakan.
  • Biaya peluang yang lebih tinggi. Ketika ekspektasi pemangkasan suku bunga memudar, memegang dolar atau obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas. Investor merealisasikan keuntungan dan beralih ke aset berimbal hasil.
  • 4. Faktor teknikal dan aksi ambil untung. Emas sempat menyentuh level tertinggi bulanan di atas $5.400,00 sebelum terkoreksi.
  • Kondisi overbought: pasar sudah berada dalam kondisi sangat panas.
  • Aksi ambil untung massal: ketika kepanikan mulai muncul, investor yang memegang keuntungan besar di atas kertas bergegas mengamankannya. Hal ini menciptakan efek bola salju di mana jumlah penjual jauh melampaui pembeli.

Inti utama

Dalam jangka pendek, ketakutan terhadap inflasi yang tak terkendali dan kebijakan The Fed yang lebih ketat (atau setidaknya, dibatalkannya rencana pelonggaran) mengalahkan permintaan emas sebagai aset safe haven. Investor saat ini lebih mengkhawatirkan konsekuensi konflik tersebut, perlambatan pertumbuhan global, dan suku bunga tinggi yang berkepanjangan daripada perang itu sendiri.

Analisis teknikal singkat

This image is no longer relevant

Pada grafik 1 jam, tren jangka pendek telah berbalik menjadi bearish. Harga terkoreksi dari batas atas channel naik pada grafik 4 jam di dekat $5.415,00, yang telah menjadi panduan reli sejak awal Februari.

Level support kunci:

  • $5.160,00–5.130,00 (support terdekat)
  • $5.100,00 (level bulat)
  • $5.050,00–4.985,00 (support yang lebih dalam dan EMA 144 dan 200 periode pada grafik 4 jam)

Level resistance kunci:

  • $5.180,00 (resistance jangka pendek dan EMA 200 periode pada grafik 1 jam)
  • $5.200,00 (hambatan berikutnya dan EMA 144 periode pada grafik 1 jam)
  • $5.320,00–5.380,00 (zona perdagangan terbaru)
  • $5.400,00 (level tertinggi bulanan dan level bulat)

RSI harian (14) sedang pulih menuju 55,40, mengindikasikan masih adanya momentum kenaikan. Tren naik yang lebih luas tetap utuh namun berada di bawah tekanan.

This image is no longer relevant

Prospek

Meski mengalami penurunan, para ekonom tidak melihat tren kenaikan emas sebagai sesuatu yang sudah berakhir. Koreksi ini tajam, tetapi kemungkinan besar bersifat teknikal. Fokus utama tertuju pada area $4.985,00–$5.100,00: jika emas mampu bertahan di atas zona tersebut, ada peluang bagi harganya untuk kembali melanjutkan kenaikan. Setelah kepanikan mereda dan kekhawatiran stagflasi tetap ada, emas akan kembali menarik. Jika nantinya menjadi jelas bahwa The Fed tidak dapat memerangi inflasi dengan menaikkan suku bunga (karena risiko resesi), logam mulia ini seharusnya kembali diuntungkan.

Apa yang penting hari ini?

Pelaku pasar memantau rilis laporan ketenagakerjaan sektor swasta ADP dan ISM services PMI. Namun, data-data ini mungkin hanya menjadi perhatian kedua karena fokus utama tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Kesimpulan

Singkatnya, meskipun emas secara tradisional berperan sebagai aset safe haven di tengah risiko geopolitik, perilakunya dalam jangka pendek bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:

  • kekuatan dolar AS dan imbal hasil obligasi
  • reaksi pasar keuangan terhadap ketidakstabilan geopolitik
  • ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter versus berlanjutnya suku bunga tinggi

Dalam situasi seperti ini, dolar yang menguat di tengah kekhawatiran risiko dapat menekan harga emas, meskipun risiko geopolitik meningkat. Namun, penurunan saat ini bukanlah akhir dari era emas — ini adalah pengingat yang sangat jelas bahwa pada momen tekanan ekstrem, kas (dolar AS) sering kali menjadi raja. Dalam jangka menengah dan panjang, pendorong fundamental bagi emas (geopolitik, inflasi, dan utang) tetap masih berlaku. Para investor yang mencari peluang masuk sebaiknya mencermati reaksi harga di sekitar $5.100,00 dan area support kunci di dekat $5.000,00 secara saksama.

Recommended Stories

Tidak bisa bicara sekarang?
Tanyakan pertanyaan anda lewat chat.